Suatu hari, ketiga putriku -Ishma (7 tahun), Nida (5 tahun), dan Nisa (2,5 tahun)- sedang menonton TV. Mereka begitu tenang, dan terlihat begitu terpesona menatap kotak TV. Tak terdengar celotehan-celotehan yang biasanya terlontar saat sedang bermain boneka bersama. Tak terdengar keributan-keributan kecil tatkala berebut dan mempertahankan mainan kesukaannya. Tak nampak pula komunikasi interaktif, dramatisasi peran pada berbagai karakter mainan yang digenggamnya. Tak terdengar jeritan dan tangisan si kecil -Nisa- tatkala berusaha merebut mainan kesukaannya yang telah dimainkan oleh kakaknya.
Hening… Sunyi….
Yang terdengar hanyalah suara-suara tak berirama dari kotak TV. Terkadang terdengar nada bicara, kemudian berhenti, iringan musik, tiba-tiba suara iklan yang mungkin telah beratus kali diulang, tanpa melihatpun aku tahu iklan tentang apa itu, kemudian suara iklan lainnya, iklan lagi.
Kembali hening…
Nada bicara, suara iringan musik … Anehnya semua perubahan dalam TV, kilatan-kilatan cahaya yang menyorot ketiga wajah di depannya -terang-gelap, terang-gelap, silih berganti-, tak merubah sedikitpun respon dan ekspresi wajah dan emosi ketiga buah hatiku. Ketiganya tetap duduk, diam, dengan mata terpaku pada kotak TV.
Hening….
Keanehan ini membuatku tergerak untuk melihat apa gerangan yang mereka tonton dari kotak TV itu. Seseorang yang menyandingkan namanya dengan binatang kura-kura (dalam bahasa Sunda), tengah beraksi mempertotonkan kehebatannya bersulap/hipnotis. Ia berjalan di tengah keramaian pasar, bicara “ngalor-ngidul” tentang yang akan dilakukannya, membuat penasaran orang yang menontonnya, termasuk aku dan ketiga putriku. Ia mencari target orang yang mau “dikerjainya”, dan mendapatkan seorang laki-laki yang sedang duduk menikmati makanan. Dia bertanya beberapa hal, namanya, tujuan ada di pasar, beberapa pertanyaan lain, untuk kemudian dia menghipnotisnya.
Sampai di situ tak ada keanehan ….. kilatan dramatisasi aksi dengan efek yang membuat adrenalin terpompa kencang….. kilatan-kilatan cahaya, gelap-terang bergantian beberapa kali menambah penasaran… tiba-tiba iklan, iklan lagi dan iklan. Yang membuat miris hati ini adalah aksinya setelah jeda iklan. Kelanjutan aksi hipnotis adalah “mempermainkan” dan membongkar bawah sadar korbannya dengan pertanyaan hampir mirip dengan pertanyaan sebelum hilang kesadarannya, sehingga apa yang terungkap dari bawah sadarnya tidak sama dengan apa yang diungkapkan sebelum hilang kesadarannya. Serasa diatas angin, si pesulap bertanya berbagai hal lain yang mengundang kepenasaran dengan jawaban-jawaban yang tidak pantas didengar anak. Sampai sebuah kesimpulan bahwa, orang itu berbohong ketika dia berada dalam kesadarannya dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas.
Aku tergerak untuk memindah saluran…. ini berbahaya.
“Yaah,… abi, koq dipindah sih”, suara protes terdengar dari si tengah.
— 000 —
Hari-hari ketika TV menyala, dan ketiga buah hatiku berada di depannya, adalah waktu yang penuh rasa khawatir. Rangkaian acara TV yang tak kenal berhenti selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan, membuat aku harus selalu waspada. Selalu berada di samping mereka tatkala di depan TV untuk mengatur saluran, membimbing, bereaksi terhadap sebuah tayangan, mengambil hikmah dari apa yang dilihat. Tapi sampai kapan bisa dilakukan seperti ini, sedangkan serbuan tayangan itu tak pernah berhenti.
Coba bayangkan….
Aku bereaksi untuk mengganti saluran TV…… tertayang sinetron religi yang sama sekali tidak religius apalagi islami. Kuganti lagi, sinetron remaja tentang persahabatan dan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah mempertontonkan perilaku yang membolehkan segalanya dilakukan laiknya suami istri. Kuganti lagi, kompetisi mencari jodoh, lebih mirip lelang belanja barang murahan “take it, or leave it”, yang judul acara seharusnya adalah “Kick Me Out From Indonesia”, karena tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Kuganti lagi, kuganti lagi, kuganti lagi…. nada protes bergantian dari ketiga anakku, aku harus punya alasan mengapa kupilih-pilihkan saluran TV untuk mereka.
Saluran 1 : “Ini acara bukan untuk ditonton oleh anak-anak, ceritanya tentang ….. ?.” Perselingkuhan… Mengertikah mereka dengan kata ini ?
Ganti, saluran 2 : “Ini acara tidak pantas ditonton oleh kalian, karena …….”. Peluk cium antara pria dan wanita yang tidak jelas status hubungan satu dengan yang lainnya diiringi musik yang iramanya bukan seni lokal. Duuuh… putriku….
Ganti, saluran 3 : “Acara ini secara tidak sadar mengajarkan kalian berbohong.”
Ganti, saluran 4 : “Acara ini mengajarkan kalian untuk bermalas-malasan, tapi dapat memperolah segala yang diinginkan, mungkinkah?”
Ganti, saluran 5 : “Acaranya tentang kemewahan, mengajarkan kalian untuk hidup mewah tak peduli kepada sesama yang kekurangan.”
Ganti, saluran 6 : “Acaranya isinya marah-marah terus, apa masalah dalam hidup ini bisa diselesaikan dengan marah-marah?.”
Ganti saluran 7 : “Ini acara tentang…….”. Berita-berita terkini, kecelakaan, perampokan, kebakaran, kekerasan rumah tangga, perlukah kalian tahu, putriku?
Ganti saluran 8 : “Ini acara …….”. Berita-berita terpanas, artis A cerai dengan pasangannya, artis B ketahuan selingkuh, artis C dipenjara karena narkoba, artis D…, artis E …., F …., G …., H …., …, …. Benar-benar bikin mata, kuping dan hati panassss….
Saluran 9 : “Ini …….” Film kartun, menyuguhkan tema yang tak pernah berubah, permusuhan abadi antara kucing dan tikus.
Ganti saluran lagi, ganti lagi, ganti …… Aku kehabisan alasan, sedangkan saluran TV masih lebih banyak dari alasan yang ada di kepala dan harus aku ungkapkan ke hadapan ketiga putriku. Aku kehilangan alasan untuk meyakinkan ketiga putriku apa yang seharusnya mereka dapatkan dari tayangan-tayangan yang dilihatnya. Bahkan aku tak punya alasan mengapa kotak TV itu harus ada di rumahku.
— 000 —
“Abi koq nontonnya iklan sih…”, seru si tengah.
Ganti saluran.
“Abi, ini gak seru…. ini kan cuma buat abi.. “, timpal si sulung, talkshow perkembangan kondisi negeri ini, korupsi yang merajalela, perebutan kursi kekuasaan negara.
Ganti saluran.
“Abi…. ini macak-nya umi… nyam-nyam-nyam”, si kecil ikut protes, tayangan kuliner, cara memasak praktis untuk ibu yang sibuk bekerja.
Ganti saluran.
“Abi…. koq orang melucu tapi ketawa sendiri sih”, si sulung beranalisis, acara komedi, isinya mengolok-olok teman pelawak lainnya, lawakannya sama sekali tidak menghibur penonton, suara tawanya ketahuan dibuat-buat dari rekaman.
Ganti saluran.
“ABI, bosan ah…., mending main “pinguin” di laptop-nya abi…”, seru si sulung.
“PINGUIN …….”, seru si kecil mendahului berlari ke arah meja kerjaku, kedua kakaknya menyusulnya. Di atas meja itulah laptop-ku berada, dan kini ketiga putriku sudah hilang dari depan TV. Lega rasanya, aku tak harus mengumpulkan lagi alasan untuk memilihkan saluran TV karena aku sudah mematikannya.
“Kaka mau main Super Pinguin, dong. Gantian, nanti dede main ikan ji-kompris …” , si tengah merayu adeknya yang sudah duluan berada di depan laptop.
Super Penguin adalah permainan Super Tux, seperti Super Mario Bros dengan pemeran utama si Pinguin Tux. G-Compris adalah serangkaian permainan edukasi untuk anak mulai usia 2 tahun.
“Ga, ah ….. aku duluan…”, si kecil ngotot, ditekannya tombol “POWER” laptop.
“Kalau mau pinguin jangan di pencet-pencet dulu sampai dengar “bismillaahirrahmaanirrahiim” “, si sulung menengahi.
Ketiganya terdiam, kini mereka menunggu dan menatap laptop yang sedang “booting”. Di laptopku memang tertanam dual-boot OS, – Sabily Taybah dan Windows XP. Jika proses booting tidak ditekan tombol apapun, maka akan terpilih Sabily sebagai urutan booting pertama dengan suara log-on otomatisnya kalimat “bismillahirrahmaanirrahiim”.
Perkenalanku dengan Linux dimulai sekitar tahun 2006, pertama kujajal Edubuntu 5.10, kemudian Fedora, LinuxMint, tapi tak lama kemudian kembali ke Ubuntu dan jatuh hati, tak mencoba-coba lagi Linux lain. Versi demi versi aku jajaki : Ubuntu 6.04, Ubuntu 6.10, Ubuntu ME 7.10, Ubuntu 8.04 LTS, Ubuntu ME 8.04, Ubuntu 8.10, dan sampai sekarang Linux yang tertanam adalah Sabily Taybah. Dengan fasilitas software-software islaminya, -Zekr Qur’an Tools, munajat, athan- dan yang aku tak lupa untuk mengunduhnya adalah software-software game edukasi. Jadilah Sabily Taybah yang tertanam di laptopku adalah versi lengkap (full version).
“Dede mau maen pinguin aja…, teteh tolong pencetin ini”, si kecil merayu si sulung (teteh -bhs. Sunda- = kakak) dan menunjuk ikon bergambar pinguin Tuxpaint.
Si sulung segera mengklik ikon Tuxpaint. Si kecil dengan cekatan meraih tetikus dan memilih tombol untuk menggambar binatang, yang tertayang pertama kali adalah gambar katak. Seekor, 2 ekor, 3 ekor, 4, 5, 6 ….. si kecil mengklik tetikus terus menerus sehingga tertampil gambar katak yang banyak.
“Pencet mos-nya jangan banyak-banyak dulu, dede …”, kata si sulung memberi instruksi. “… hapus dulu yang tadi, ya”, klik tombol penghapus, digerakkannya ke seluruh layar Tuxpaint sampai layar kosong dari gambar katak.
“Katak ibunya dulu, ya”, kata si kecil, ia mengambil alih tetikus, beberapa gambar katak tertampil di layar Tuxpaint.
“Sekarang anaknya”, si kecil semakin asik. Klik tombol mengurangi ukuran gambar. Beberapa klik tertampillah gambar katak yang lebih kecil.
“Sekarang burung, ya”, si kecil masih memegang kendali. Klik ikon burung gagak. “KAAAK…. KAAAKK… KAAAKK…. crow”, suara efek terdengar ketika ikon gagak diklik. Beberapa klik tertampillah beberapa gambar burung gagak.
“Bahasa Inggrisnya gagak itu krow ya, abi ?”, tanya si tengah, matanya menatap laptop takjub.
“Ya….”, gumamku.
“… gantian dong mainnya, dede”, si tengah mulai membujuk, tak lama kemudian tampak gelisah dan mulai mengganggu dengan menggoyangkan kursi adiknya.
“Dede mau bebek dulu, kakak…”, si kecil tak bergeming. Klik gambar bebek.
“KWAK-KWAK-KWAAK …… duck,”
“DAK..,” si tengah semakin gelisah, mengubah dan meningkatkan aksi gangguannya. Si kecil beberapa kali tidak berhasil menempatkan gambar di layar yang tepat karena si tengah menggoyangkan mouse-pad.
“Jangan goyangin mos-nya dong, kakak”, seru si kecil, ia tak mau memberi kesempatan. Beberapa ekor bebek kini berhasil tertampil di layar Tuxpaint. Klik tombol pengecil, “… ini bayinya, hi … hi … hi ….”
Si tengah melirik kakaknya, keduanya tersenyum, tampaknya mereka punya muslihat untuk menghentikan adiknya agar mau berbagi. Si tengah membisikkan sesuatu ke telinga kakaknya. Keduanya mengangguk dan tersenyum semakin lebar.
“Sekarang pencet lebah, ya de … he… he …”, giliran si sulung membujuk dan masih tersenyum lebar. Lalu melirik si tengah yang juga tersenyum lebar dan melompat-lompat kecil di tempat. Aku tersenyum, aku tahu mereka merencanakan muslihat. Aku harus siap-siap menyelamatkan si kecil. Si sulung duduk menempel di kursi tempat duduk adiknya, kemudian menaruh tangannya diatas tangan si kecil yang masih menempel pada tetikus. Klik gambar lebah.
“BZZZZ… BZZZZZ…”, si kecil tersentak dan beringsut dari tempat duduknya, “BZZZZZZZZZZ….. bee”, si kecil kaget dan mendorong badan si sulung, kemudian meghambur ke arahku minta dipeluk.
“BIIIIIIIII …… he… he….he…”, si tengah dan si sulung meloncat-loncat kegirangan.
“AAABIII… teteh sama kakak kagetin dede…..”, kugendong dan kuusap-usap punggungnya untuk menghilangkan kekagetannya.
“Kalau mau gantian, jangan dengan menakuti adeknya dong, teteh, kakak…”, istriku mengingatkan dari beranda depan, buru-buru masuk ketika mendengar keributan di dalam.
“Habis dede-nya kelamaan, gak mau gantian….”, si tengah membela diri.
Sejurus kemudian suasana berubah, si tengah telah berada di depan laptop. Menutup layar Tuxpaint dan mengklik ikon SuperTux. Dimainkannya level pertama, Tux berjalan dan mengambil koin-koin sepanjang perjalanan, tapi si tengah belum bisa mengendalikan Tux untuk menghindar dari gangguan kuman-kuman berbulu. Tiga kali tertabrak, “GAME OVER”.
Gantian si sulung duduk, memainkan SuperTux level pertama. Sama juga dengan adiknya, ia belum dapat mengendalikan Tux menghindar dari kuman. Tiga kali tabrakan, “GAME OVER”.
Berganti si tengah duduk, level-1, mencoba melompati kuman, tapi belum dapat mengendalikan dengan sempurna. Tiga kali tabrakan, “GAME OVER”. Gantian kakaknya, level-1, tiga kali tabrakan, “GAME OVER”. Gantian lagi si tengah duduk, ia masih belum menyerah, level-1, tiga kali tabrakan, “GAME OVER”. Gantian si sulung duduk di depan laptop. Terdiam sejenak.
“Abi, keluar dari permainan ini gimana ?”.
“Tekan tombol paling atas sebelah kiri di keyboard,” jawabku.
Rupanya ia menyerah. Kuminta dia menekan tombol ESC, kemudian klik paling bawah (QUIT) di layar main menu SuperTux. Musik SuperTux berhenti. Kemudian terdengar iringan musik game G-compris dan sapaan “Mari Bermain G-Compris”.
Mendengar efek suara itu, si kecil mengangkat kepalanya yang dari tadi disandarkan ke pundakku, meronta untuk turun. Setelah kuturunkan dari gendongan dan lepas dari genggaman, ia berlari mendekat ke arah kedua kakaknya.
“Dede mau main ji-ompis … “, tangannya menarik-narik baju si sulung.
“Teteh dulu dong, de. Tadi kan dede udah Pinguin,” si sulung bereaksi menarik baju yang digenggam adiknya.
“Dede lihatin teteh dulu aja, kakak tolong ambil kursinya ….”, aku menengahi, si tengah mendorong kursi plastik dari dekat meja makan ke arah meja kerja. Kemudian bersama si kecil duduk melihat si sulung bermain dan menunggu gilirannya.
Si sulung asik bermain puzzle beragam bentuk dari potongan-potongan beragam bentuk bidang yang lebih kecil. Giliran si tengah lebih suka permainan menebak warna dari rangkaian huruf yang ia eja. Naah, kalo giliran si kecil, ia sangat suka permainan tangkap ikan dengan mengklik gambar ikan yang berjalan di layar permainan G-compris. Sesekali ocehan-ocehan memandu dari si sulung untuk adiknya terdengar, terkadang gangguan-gangguan si tengah, dan teriakan si kecil mengadu karena diganggu kakaknya.
Tak terasa berjam-jam berlalu… tanpa TV, ya… tanpa TV. PINGUIN telah membuat ketiga putriku riang, dan menemukan kegaduhan yang selalu didamba orang tua. Mendamba kegaduhan ??…. ya… orang tua mana yang tak terhibur dengan keriangan anaknya….. riang berarti ramai, ramai berarti gaduh.
Jakarta, 25 September 2009
Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.



sip… jadi semangat lagi gunakan linux. biar bisa ngajar anak2 kalo sudah punya anak nanti
Komentar oleh abu umar — 3 Oktober 2009 @ 9:52 PM
alhamdulillaah … bisa berbagi, jangan lupa pilih saya di lomba blog ILC ya mas umar
Komentar oleh goosleem — 5 Oktober 2009 @ 4:43 AM
nggak nyangka gue loe bisa buat tulisan yang bagus seperti ini,
menarik, edukasi buat para ortu yg sdg berjuang dgn anaknya utk menghindari “kotak” TV di rumah.
thx nasehat2nya prenz, ,,,,
Komentar oleh readyforsue20 — 5 Oktober 2009 @ 7:10 AM
Alhamdulillaah, seneng rasanya bisa berbagi sesama saudara… tapi jangan lupa pollingnya dong ya, … he … he … he … do’ain gue biar lancar nulis terus
Komentar oleh goosleem — 6 Oktober 2009 @ 2:07 AM
cara install n downloadnya gimana
Komentar oleh edy susanto — 26 Oktober 2009 @ 2:06 AM
Kalau di Sabily full version, gcompris sudah ada di dalam paket distro-nya (lihat di : http://www.sabily.org/website/index.php/en/sabily/content). Pada versi small, dapat diunduh melalui Package manager Synaptic, click System>Adminitration > Synaptic Packkage Manager> … pada tampilan Synaptic klik paket gcompris, secara otomatis akan menyertakan paket-paket dependencies-nya.
Atau dapat melalui Terminal dengan mengetik :
$ sudo apt-get install gcompris
Semoga bermanfaat. Selamat ber-open source
Komentar oleh goosleem — 26 Oktober 2009 @ 6:51 AM